Pandangan ttg FPGA Technology

Sekitar setahun yang lalu, gw sangat tergila-gila dengan FPGA, terutama FPGA barunya Xilinx : Spartan 3E. Dengan harga kurang dari USD 10 (100k equiv-gates, dan pake VQFP package..bisa disolder dengan tangan), gw langsung beli development kitnya. Ga cuma itu, gw juga memulai membuat development kit FPGA gw sendiri (dengan bantuan Sigit Manufel ITB).

Setelah ikut kuliah Managing NPD di Penang, gw mulai menyadari posisi teknologi FPGA ini. Berikut adalah pandangan gw terhadap harga FPGA yang semakin murah :

FPGA adalah Disruptive Technology untuk Embedded System
Dunia embedded system dipenuhi dengan aneka processor. Dari 8-bit sampai 64-bit, semuanya berusaha menampilkan keunggulan mereka untuk bidang tertentu (karena semua orang menyadari bahwa satu processor untuk semua aplikasi adalah mustahil). Tapi FPGA merubah semua itu. Sebuah FPGA dapat digunakan sebagai processor, yang dapat dengan mudah diubah-ubah sesuai aplikasi, tanpa harus melalui daur pembuatan IC yang rumit.

FPGA dapat Memulai Revolusi di Customized Hardware
Bayangkan jika PDA GSM anda dapat berubah menjadi PDA CDMA, atau perangkat WiFi anda tiba-tiba berubah menjadi WiMAX, hanya dengan mengupgrade firmware FPGA anda (biasanya kita bilang configuration untuk FPGA, firmware hanya untuk processor). Keren kan ? Ga perlu beli HP baru hanya untuk menikmati layanan baru.
Bahkan kl perlu, gw bisa bikin TV gw jadi stasiun TV digital, hanya dengan upgrade firmware.

Apa ini cm imajinasi gw ? Tanyakan Mr. Google tentang Software Defined Radio, dan katakan apa ini cm imajinasi gw.

Kelemahan : Development Cost yang Tinggi
Harga gate FPGA dari tahun ke tahun semakin menurun, mengikuti hukum Moore. Tapi sayangnya, perangkat development FPGA hampir tidak pernah turun (malah semakin naik melulu). Harga development cost yang mahal ini harus dibayar dengan menaikkan harga jual produk, atau volume produksinya. Karena itu, jangan heran FPGA hanya bisa ditemukan di produk-produk segmen atas dan segmen khusus (militer, penerbangan, etc.).

Kelemahan : Harga FPGA masih mahal jika dibandingkan dengan Harga Processor jadi
Enakan mana : sewa kos / apartemen /rumah yang sudah berisi perabot, atau kosong sama sekali ? Begitulah analogi FPGA versus processor. Dengan FPGA, kita dapat chip kosong, yang bisa dibentuk jadi apapun. Masalahnya, kl dihitung-hitung, membuat isi FPGA itu lebih mahal daripada beli processor dengan peripheralnya (SoC : System on Chip).

Banyak yang bilang, kan bisa diakali dengan ambil IP dari OpenCores.org ? Masalahnya, isi dari opencores.org itu kebanyakan tidak layak untuk dideploy ke produk jadi. Isi opencores.org kebanyakan adalah sisa-sisa kerjaan/PR/TA mahasiswa yang dah ga kepakai. So, jangan heran kl IP tersebut jalan, tapi reliabilitasnya payah bgt (kadang jalan, kadang enggak).

FPGA untuk Technopreneur ?
Cocok ga sih ? Menurut gw, kl lu jadi technopreneur, lebih baik fokuskan dulu ke mana persh lu akan jalan. Setelah itu, cari tahu kira-kira market persh lu itu bersedia bayar berapa untuk produk lu. Baru setelah itu lu bisa putusin enakan pake FPGA atau processor.

Saran gw, kl lu punya market dengan margin tinggi dan harganya sanggup untuk mendukung FPGA, gunakan FPGA. Kl ga, pakai processor dulu. Profit yang lu dapat dari penjualan produk berbasis processor itu kemudian bisa digunakan untuk R&D FPGA technology.





Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


  • Recent Posts

  • Archives

  • Categories


%d bloggers like this: