Kasus Tibo – Surat seorang biarawan

Baca pengakuan Tibo di
http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=724


Kepada Yth.

Presiden Republik Indonesia
Di
Jakarta

Bapak Presiden Yang terhormat !

Sebagai seorang anak bangsa saya mengikuti dengan cermat
penanganan kasus-kasus kekerasan dan pelanggaran HAM di tanah air
mulai dari kasus Tanjung Priok, Trisakti, Kerusuhan Jakarta, kasus
Timor-Timur,Aceh, Papua, Ambon hingga terakhir kasus Poso. Saya
mengikutinya semata-mata karena rasa cinta pada kemanusiaan (sebuah
nilai luhur yang terwariskan dari sejarah kaum yang pernah ditindas
selama hampir 350 tahun oleh Kolonialisme-imperialisma asing).

Di antara kasus-kasus itu kasus Poso adalah sebuah konflik
sosial dengan ekskalasi besar dalam rentang waktu amat panjang.
Konflik ini telah melibatkan banyak pihak dan menelan banyak korban.
(Tentang hal ini Bapak Presiden tentu sangat tahu.) Namun sayangnya
penanganan terhadap kasus ini pada akhirnya hanya bisa menetapkan tiga
orang anak bangsa yang tidak berpendidikan (buta huruf) sebagai tumbal
yang malang. Ada pertanyaan yang mengusik saya : “Mengapa Tibo? ”
Mengapa yang kecil selalu dikorbankan ?

Saya melihat Kasus Tibo sebagai sebuah representasi paling pedih
dari tumpukan tumbal yang tidak punya nama di hadapan kekuasaan.
Sebuah contoh yang menyadarkan bahwa dalam kehidupan berbangsa setiap
orang yang tidak punya kuasa bisa dikorbankan ; hari ini Tibo, besok
yang lain – yakni setiap orang yang bisa diadu untuk berkelahi dan
saling membunuh lalu kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Sementara mereka yang punya duit (untuk membayar), punya kuasa (untuk
memerintah) dan punya senjata(untuk membunuh atas nama hukum) dapat
tetap berpesta sebagai penjaga hukum.

Mempertimbangkan pengalaman penanganan kasus Tibo dengan hati yang
jernih, dalam sebuah rentangan sejarah kekerasan yang panjang di
Negara tercinta ini tidak ada yang bisa kita katakan selain mengakui
bahwa bangsa ini sedang menjerumuskan dirinya menjadi Bangsa yang
haus darah karena dalam tiap paruhan sejarahnya selalu menghisap darah
rakyatnya sendiri. Namun saya percaya bahwa masih amat banyak pula
orang-orang yang berkehendak baik. Karena itu dengan penuh harapan ,
sambil menaruh hati pada jeritan para korban entah di Aceh, Poso ,
Papua atau di tempat-tempat lain di Tanah Air Indonesia tercinta ,
dengan ini sebagai seorang anak bangsa, Saya menyerahkan diri dan
menyatakan kesediaan untuk dieksekusi menggantikan para tersangka
hukuman mati kasus Poso. Saya berharap pilihan ini bisa menjadi
monumen peringatan di antara orang-orang yang berkehendak baik di
negri tercinta ini untuk menaruh hormat dan membela kehidupan
manusia.

Roma, 11 April 2006

Hormat Saya
Rm. Leo Mali
Pontificio Coll. San Pietro Apostolo
Viale delle Mura Aurelie no. 4 , 00152
Roma – Italia


  1. niel..opo ae toh ? jadi melo gini nulis blogs …
    ya apa om…mau married ama siapa om ?

  2. Ini namanya : knowledge management J..

    Spy pemikiranku ga hilang krn lupa, aku titipin dl di blog-blog..




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


  • Recent Posts

  • Archives

  • Categories


%d bloggers like this: